zero waste

Zero Waste – Persoalan sampah merupakan sebuah permasalahan darurat yang dialami hampir di setiap daerah di Indonesia, khususnya saja kota-kota besar. Sekarang ini, bahkan banyaknya sampah menjadi persoalan global yang berdampak meningkatkan emisi gas rumah kaca. Tak heran, jika pemerintah terus melakukan upaya penanganan limbah dengan baik.

Berdasarkan data Greenpeace Indonesia, masyarakat telah menghasilkan sampah organik sekitar 70%, jumlah sampah terbesar. Sementara sisanya berupa sampah anorganik seperti kantong plastik, botol plastik, styrofoam dan sampah serupa yang sulit terurai dan bahkan tidak bisa didaur ulang. 

Sampah organik merupakan jenis limbah yang berpotensi bisa diolah menjadi pupuk kompos karena berasal dari bahan-bahan alami seperti dedaunan. Berbeda dengan sampah anorganik yang bisa kembali diolah secara kreatif untuk menghasilkan barang berguna.

Dalam UU No. 18 Tahun 2008 mengenai pengelolaan sampah dijelaskan bahwa perlu adanya suatu upaya dalam pengelolaan sampah secara maksimal.

Mengenal Pengolahan Sampah Berbasis Zero Waste

Sampah adalah sisa kegiatan yang dilakukan manusia. Hampir semua kegiatan manusia ini pasti menghasilkan sampah. Pengelolaan sampah sangat penting untuk ditangani secara serius sebagai langkah dalam menjaga sumber daya lingkungan. Pendekatan zero waste merupakan salah satu cara yang dilakukan sebagai upaya pengelolaan sampah.  

Metode pengelolaan sampah ini dilakukan melalui beberapa tahap, pertama pemilahan, kedua pengomposan serta ketiga pengumpulan barang layak jual. Tujuan dari pendekatan ini adalah membuat sampah yang dihasilkan rumah tangga maupun skala usaha tidak berakhir dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). 

Konsep Zero Waste 

Secara konsep, penerapan zero waste untuk usaha rumahan, lebih kepada pengendalian diri untuk tidak terlalu konsumtif dan lebih bertanggung jawab pada lingkungan. Upaya ini dilakukan dengan mengikuti prinsip 5R, yakni sebagai berikut. 

  1. Refuse/Menolak

Refuse adalah sebuah sikap penolakan, dengan menghindari penggunaan produk yang memiliki potensi bisa menjadi sampah. Misalnya barang yang tidak diperlukan maupun berpotensi merusak lingkungan.

  1. Reduce/Mengurangi

Reduce merupakan upaya pengurangan kuantitas barang yang bisa menjadi sampah. Misalnya dengan menghindari produk kemasan sachet yang berpotensi menghasilkan sampah dalam jumlah lebih banyak.

  1. Reuse/Menggunakan Kembali

Reuse merupakan penggunaan kembali barang yang bisa dipakai berulang-ulang dibanding produk sekali pakai bila fungsinya sama. Contohnya, saat kita berbelanja, kita lebih seperti halnya dalam memilih tas plastik anyam sebagai pengganti kantong sekali pakai. 

  1. Recycle/Mendaur Ulang

Recycle atau daur ulang hanya akan dilakukan setelah usaha refuse, reduce dan reuse. Tujuan proses daur ulang adalah memanfaatkan kembali barang yang masih bisa dipakai untuk fungsi lain agar tidak mencemari lingkungan. Langkah pertama melakukannya adalah dengan memisahkan terlebih dulu antara jenis sampah organik dan juga anorganik.

Daur ulang dilakukan untuk jenis sampah anorganik, seperti botol plastik bekas dan ember bekas agar menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis. Manfaat daur ulang bisa menghindarkan risiko kerusakan lingkungan, sekaligus meningkatkan perekonomian.

  1. Rot/Pembusukan Sampah

Rot merupakan pembusukan sampah organik agar menjadi kompos. Berdasarkan prinsip pendekatan zero waste, setelah sampah organik dan anorganik dipilah dan sebelum dibawa ke TPA), maka bisa dilakukan pembusukan sampah organik. 

5R ini menjadi pegangan untuk usaha pabrik tempe skala rumah yang tengah ku jalankan saat ini. 

Pabrik Tempe Rumah dengan Konsep Zero Waste

Usaha pabrik tempe rumahan yang ku jalankan, sekarang ini menerapkan prinsip 5R. Menjalankannya, secara tidak langsung membuatku ikut berkontribusi besar dalam upaya menjaga bumi yang kita tempati. 

Sekilas mengenai usaha tempe yang ku jalankan, yakni membuat fermentasi kedelai agar menjadi olahan tempe. Pembuatannya melewati proses memasak kedelai, penggilingan, hingga proses membungkus agar menjadi tempe. Di dalam prosesnya, dilakukan upaya pengelolaan sampah berbasis 5R. 

Penerapan Pengelolaan Sampah Berbasis Zero Waste

Pengelolaan sampah dalam usaha pabrik tempe rumahan yang ku jalankan, telah menerapkan pendekatan zero waste melalui upaya berikut. 

  1. Membuat Produk Tempe Daun 

Langkah pertama penerapan zero waste untuk produksi tempe adalah dengan membuat produk tempe daun dan bukanlah tempe plastik. Daun yang bisa dipakai sebagai pembungkus, di antaranya adalah daun jati, daun pisang, serta daun awar-awar. Sementara untuk tali, menggunakan irisan pelepah pisang kering dan bukanlah tali rafia.

  1. Memilih Peralatan dari Anyaman Bambu

Peralatan yang digunakan untuk proses produksi menggunakan bahan dari alam. Misalnya menggunakan bakul/kukusan, besek/tumbu, serta nampan yang semuanya dibuat dari anyaman bambu. 

  1. Memanfaatkan Kertas Bekas sebagai Tambahan Pembungkus

Pembungkus tempe menggunakan daun dan beberapa di antaranya ada yang menambahkan kertas. Kertas yang dipakai adalah produk bekas, sehingga bisa dibilang memanfaatkan barang bekas untuk fungsi lain. 

  1. Mengganti Tas Plastik Sekali Pakai

Tas sekali pakai tidak lagi digunakan untuk melayani pembeli. Melainkan,  aku menyarankan pada mereka agar membawa tas yang bisa dipakai berkali-kali saat belanja. Misalnya tas kain atau tas plastik anyam. 

  1. Mengolah Sampah menjadi Kompos

Sampah daun pembungkus tempe yang rusak atau mulai busuk, ku manfaatkan menjadi kompos dengan beberapa langkah. Kompos ini nantinya bisa dimanfaatkan kembali untuk pupuk di sawah.

  1. Memanfaatkan Barang Bekas Layak Pakai sebagai Wadah 

Banyak kardus-kardus bekas atau wadah plastik/baskom yang berlubang ku jadikan sebagai tempat untuk meletakkan tempe yang akan difermentasi. Jadi daripada dibuang, barang-barang ini bisa dipakai kembali tanpa harus membeli baru dan menambah pemakaian produk berbahan plastik.   

  1. Membeli Produk Kemasan Besar

Produksi usaha tempe memerlukan tepung beras dan ragi. Kedua produk ini aku beli dalam ukuran plastik besar. Memang dalam prosesnya masih menggunakan produk berbahan plastik, tapi setidaknya bisa mengurangi pemakaian dan jumlah sampah yang dihasilkan. 

Jadi, prinsip dari zero waste bukanlah sama sekali tidak menggunakan produk berbahan plastik, melainkan refuse, reduce, serta reuse. Sementara sisanya, barulah dilakukan recycle dan rot sebagai jalan terakhir. 

Bagaimanapun juga, sampah akan terus menerus ada di bumi selama manusia masih hidup. Melakukan pengelolaan dan penanganan sampah yang tepat berbasis zero waste menjadi solusi yang bisa kita mulai dari sekarang! 

#ZeroWasteCities  

#LombaMenulisZWC 

#KompakPilahSampah 

#ZeroWastetoZeroEmission

Sumber foto : dokumentasi pribadi

Edit by Canva

ditulis oleh

Anis Faridatunisak

Jalan Buntu menyuguhkan informasi menarik seputar bisnis, hubungan, kesehatan, kecantikan, review game, dunia wanita, saham, dan berbagai informasi terpercaya lainnya.