#BersamaBergerakBerdaya

#BersamaBergerakBerdaya Udara yang begitu panas belakangan ini, kian membuatku emosi. Si kecil terus menerus rewel karena kegerahan, bahkan mata air mengering karena cuaca ekstrim. Sedikit mengherankan, karena kondisi ini dulu hampir tidak pernah terjadi. 

Paling mencengangkan, meski masih jam 7 pagi, cuaca panas hampir benar-benar membakar kulit. Cuaca panas yang sering kudengar di kawasan perkotaan, kini bisa kurasakan di tempat tinggal ku yang bisa di bilang berada di daerah desa. 

Ya, aku tinggal di Kabupaten Ponorogo yang di kelilingi oleh pegunungan dengan suasana yang begitu asri. Jelas saja, kondisi panas yang begitu menyengat ini sangat mengherankan. 

Apa yang Terjadi dengan Iklim Dunia?

Melihat berita, aku makin kaget dengan banyaknya dampak akibat panas ekstrim ini. Ternyata, yang ku alami ini hanya sebagian kecil dari dampak yang terjadi pada bumi. Di luaran sana, dampaknya begitu besar tanpa kita sadari. 

Berbagai berita seputar isu perubahan cuaca dan dampaknya yang semakin terasa juga berseliweran di TV, beranda Instagram, TikTok, berbagai kanal YouTube, serta media online maupun offline lainnya. 

Banyak orang, mungkin mengira bahwa angka kenaikan suhu yang terlihat sangat kecil, seperti hanya 1 derajat celcius ini tidak akan menimbulkan efek pada bumi maupun kehidupan. Apa iya?

Justru sebaliknya. Para ilmuwan justru menegaskan bahwa terjadinya kenaikan sekitar 1 derajat celcius saja bisa menyebabkan dampak yang sangat serius loh. 

Misalnya saja seperti kenaikan permukaan air laut yang menjadi penyebab bencana banjir di kawasan pesisir, mencairnya es di Kutub, kemunculan gelombang panas, hingga semakin langkanya berbagai spesies tumbuhan dan hewan. 

Semua masalah ini, nyatanya tidak lagi kita lihat sebagai dampak futuristik saja. Melainkan, sudah benar-benar terjadi saat ini dan mungkin kita alami. Apakah kamu menyadarinya? Nah, siapa nih yang semakin kesini justru makin sering mengeluh saat cuaca jadi bertambah panas? 

Sekarang ini cuaca makin nggak bisa di prediksi dan semakin banyak pula bencana alam terjadi di mana-mana. Ini semua adalah tanda-tanda jika suhu bumi mengalami kenaikan dan perubahan iklim jelas menjadi sesuatu yang nyata!

Kapan Semua akan Membaik?

Aku sendiri berharap bahwa perubahan iklim ini hanya sekedar anggapan dan isu semata tanpa ada bukti nyata. Nyatanya ini hanya sekedar angan-angan. Padahal, kita berharap bahwa iklim bisa kembali normal dan bencana tidak terjadi hampir setiap saat di berbagai belahan dunia. 

Tentu saja aku ingin bebas jalan-jalan di siang hari tanpa khawatir terik matahari yang membakar kulit, tidak perlu cemas si kecil yang terus menerus rewel karena kegerahan, tak perlu kebingungan dengan air yang semakin hari semakin menipis karena mengeringnya sumber. 

Sekarang adalah waktunya kita buat fokus memperbaiki apa yang sudah terjadi saat ini. Perlu langkah pencegahan mencegah biar masalah iklim ini nggak makin bertambah parah.

Sudah Tahu Fakta Ini?

Setahuku, isu soal perubahan iklim hanya sebatas suhu yang meningkat saja. Padahal faktanya, ada banyak isu besar yang ada di baliknya dan jarang banyak orang sadari. 

1. Peningkatan Kadar karbon dioksida (CO2)

Peningkatan kadar karbon dioksida (CO2) dalam atmosfer menjadi masalah serius yang berkontribusi pada perubahan iklim global. Mengagetkannya, ternyata peningkatan ini terutama penyebabnya adalah aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi. 

Efeknya, terjadi pemanasan global, peningkatan suhu bumi, perubahan cuaca ekstrem, serta masalah lingkungan lainnya. Pernahkah kita sadar akan hal ini? Sebagai contoh adalah kondisi Jakarta saat ini yang tengah ramai diberitakan. 

Bahkan di awal tahun 2023 saja konsentrasinya berada di level 419 ppm, rekor tertinggi ke-4 sejak awal pencatatan NASA. Jakarta kini menjadi sorotan nasional dan global. Kota Jakarta dinobatkan sebagai kota kotor karena polusi udaranya yang tinggi. 

Beberapa media internasional menobatkan Jakarta sebagai kota paling tercemar di dunia. Situs IQAir menyatakan kualitas udara di Jakarta berada dalam kategori tidak sehat dan tak layak hidup. 

2. Suhu Global Terus Meningkat

Bukan hanya kualitas udara, tapi juga suhu kian ekstrem. Melansir dari walhi.or.i, data ilmiah menunjukkan bahwa suhu rata-rata global telah meningkat sekitar 1,01 derajat Celcius sejak akhir abad ke-19 hingga saat ini. Hal ini menjadi latar belakang munculnya Perjanjian Paris.

Perjanjian Paris adalah sebuah perjanjian internasional yang ditandatangani pada tahun 2015 di Paris, Prancis, yang bertujuan untuk mengatasi perubahan iklim global. Tujuan utama dari Perjanjian Paris adalah untuk menjaga peningkatan suhu global di bawah 2 derajat Celcius di atas level sebelum era industri.

Hal tersebut dilakukan dengan upaya maksimal untuk membatasi peningkatan suhu hingga 1,5 derajat Celcius. Perjanjian ini mengharuskan negara-negara pesertanya untuk mengurangi efek pemanasan global. 

Mulai dari emisi gas rumah kaca hingga meningkatkan upaya adaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Bahkan negara-negara tergabung harus menyediakan dukungan finansial kepada negara-negara berkembang dalam upaya mereka menghadapi perubahan iklim. 

Perjanjian Paris merupakan hasil dari Konferensi Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP 21) dan telah diratifikasi oleh banyak negara di seluruh dunia.

Harapan utama dari Perjanjian Paris adalah mengurangi dampak perubahan iklim yang serius, seperti kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, dan gangguan ekosistem global, serta memitigasi risiko-risiko yang terkait dengan perubahan iklim.

Indonesia adalah salah satu negara yang telah mengadopsi dan berkomitmen untuk mengimplementasikan Paris Agreement. Sebagai negara dengan kekayaan alam yang besar dan rentan terhadap perubahan iklim, Indonesia menghadapi tantangan yang cukup tinggi dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca maupun dampak yang terjadi akibat perubahan iklim.

Saat ini, sumbangsih emisi karbon Indonesia disebut masih sekitar 2,3 juta ton per kapita. Sementara negara maju sudah mencapai 14,7 juta ton. Masih yakin, bahwa kenaikan 1 derajat celcius bukanlah hal yang mengkhawatirkan? 

3. Penurunan Luas Daratan Es Arktik

Penurunan luas daratan es di Arktik sebesar 13% per dekade adalah contoh dari dampak perubahan iklim yang signifikan. Pencairan es di wilayah Arktik telah menjadi perhatian utama dalam beberapa tahun terakhir karena dampaknya pada lingkungan dan iklim global. Pernyataan ini melansir dari laman web climate.nasa.gov.

Penurunan luas daratan es ini dapat menyebabkan kenaikan permukaan laut yang signifikan dan berdampak pada kehidupan laut serta pola cuaca di seluruh dunia. Upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan mitigasi perubahan iklim menjadi semakin penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan iklim global ini. 

4. Memicu Kekeringan 

Kekeringan yang disebabkan oleh perubahan iklim memiliki dampak yang serius. Kondisi ini mengakibatkan penurunan sumber air, sehingga dapat mengganggu pasokan air bersih untuk konsumsi, pertanian, rumah tangga, hingga industri. 

Dampaknya, krisis air tak bisa lagi terelakkan. Tanaman pertanian juga menjadi sulit untuk tumbuh dan berkembang, menyebabkan gagal panen dan penurunan produksi pertanian. 

Pada gilirannya, hal tersebut dapat mengakibatkan kelaparan dan kerugian ekonomi. Dampak lain, yakni meningkatkan risiko kebakaran hutan sehingga merusak lingkungan m, dapat menyebabkan polusi udara, serta memengaruhi kesehatan manusia.

5. Berbagai Masalah Kesehatan

Dampak lainnya, yakni dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Perubahan iklim dapat menyebabkan cuaca ekstrem seperti gelombang panas yang dapat berdampak negatif pada kesehatan manusia. Hal ini juga dapat memengaruhi pola penyebaran penyakit menular.

Misalnya saja seperti malaria dan demam berdarah dengan mempengaruhi persebaran vektor penyakit seperti nyamuk. Selain itu, perubahan iklim juga dapat memengaruhi ketersediaan air bersih dan pangan, yang dapat menyebabkan kelaparan dan dehidrasi, berdampak buruk pada kesehatan. 

6. Hilangnya Spesies

Perubahan iklim menjadi ancaman serius bagi banyak spesies darat dan laut. Pemanasan global dapat mengganggu ekosistem dan mengakibatkan perubahan suhu dan pola cuaca yang tidak stabil. 

Kondisi ini bisa mengancam populasi hewan dan tanaman, serta menyebabkan migrasi, perubahan pola reproduksi, dan bahkan kepunahan. Dampak tersebut juga diperburuk dengan hilangnya spesies. Berdasarkan info dari dlhk.mamujukab.go.id, ada sekitar 1 juta spesies terancam punah dalam beberapa dekade ke depan. 

Tahukah Kamu, Hutan Menjadi Penyelamat Terbesar dan Solusi Iklim Alami? 

Menjaga hutan dan ekosistem hutan yang sehat menjadi solusi efektif untuk membantu mengendalikan suhu permukaan bumi. Hutan bisa menjadi penyelamat. Pendinginan iklim hutan bisa dilakukan untuk menjaga suhu permukaan bumi tetap rendah dengan cara mengatur iklim. 

Hutan berperan dalam menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer melalui fotosintesis, sehingga mengurangi konsentrasi CO2 yang merupakan gas rumah kaca utama yang menyebabkan pemanasan global. 

Selain itu, hutan juga menghasilkan oksigen, mempengaruhi pola curah hujan, dan menjaga keseimbangan ekosistem yang berkontribusi pada pemeliharaan suhu bumi. Oleh karena itu, menjaga dan melestarikan hutan penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim.

Caranya adalah dengan mendukung pelestarian hutan dan mengurangi konsumsi energi. Hal ini dapat membantu mengurangi tekanan pada hutan, karena banyak hutan diubah menjadi lahan pertanian atau tambang batubara untuk memenuhi permintaan energi. 

Selain itu, ketika bepergian atau beraktivitas di alam, selalu praktikkan prinsip “tidak meninggalkan jejak,” sehingga keseimbangan alam tidak terganggu. Yuk, kita mulai BersamaBergerakBerdaya

Aksi #BersamaBergerakBerdaya dalam Menangani Perubahan Iklim 

Seperti kita tahu, perubahan iklim menjadi masalah global yang kompleks dan melibatkan berbagai aspek kehidupan manusia. Masalah ini memengaruhi lingkungan, ekonomi, kesehatan manusia, dan banyak sektor lainnya. Oleh karena itu, solusi harus mencakup berbagai sektor untuk mengurangi dampaknya. Semua pihak perlu berpartisipasi dalam upaya #BersamaBergerakBerdaya

1. Sektor Pertanian

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menekan terjadinya perubahan cuaca yang begitu ekstrem. Dalam sektor pertanian hal ini bisa dilakukan dengan mewujudkan sistem irigasi yang efisien. Menggunakan sistem irigasi yang efisien dan teknologi irigasi tetes dapat menghemat air dan mengurangi tekanan terhadap sumber daya air.

Selain itu, bisa juga dilakukan dengan menerapkan praktik konservasi tanah seperti penanaman tutupan tanah, pengendalian erosi, dan pencegahan degradasi untuk menjaga kualitas tanah. 

Untuk mengurangi jejak karbon akibat penggunaan pupuk hingga konservasi lahan, bisa pula memanfaatkan sumber energi terbarukan seperti panel surya atau tenaga angin. Dalam hal pengolahan limbah, petani bisa memanfaatkan sampah organik untuk membantu mengurangi dampak perubahan iklim. 

Terakhir, yakni menerapkan teknik pertanian berkelanjutan seperti penggunaan pupuk organik, rotasi tanaman, dan pengendalian hama yang ramah lingkungan dapat membantu mengurangi dampak perubahan iklim.

2. Sektor Energi

Ada beberapa cara untuk mengatasi perubahan iklim di sektor energi, salah satunya adalah transisi ke sumber energi terbarukan. Mendorong penggunaan sumber energi terbarukan seperti tenaga surya, tenaga angin, hidro, dan biomassa dapat mengurangi emisi gas rumah kaca. 

Hal ini juga perlu didukung dengan memaksimalkan efisiensi energi dalam produksi, distribusi, dan konsumsi energi dapat mengurangi emisi. Hal ini mencakup pemanfaatan teknologi canggih, isolasi bangunan, dan penggunaan peralatan yang lebih efisien.

Masyarakat juga harus mulai mengurangi penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar fosil dan meningkatkan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) dapat membantu mengurangi emisi dari sektor energi.

Pengembangan transportasi berkelanjutan juga bisa menjadi solusi lain. Menggeser transportasi dari bahan bakar fosil ke transportasi berkelanjutan seperti mobil listrik atau transportasi publik yang lebih ramah lingkungan dapat mengurangi emisi dari sektor transportasi yang sangat bergantung pada energi.

Selanjutnya adalah pembangunan infrastruktur energi yang cerdas. Investasi dalam jaringan listrik yang lebih pintar dan terintegrasi dapat membantu mengelola dan mendistribusikan energi dengan lebih efisien, mengurangi pemborosan energi.

3. Sektor Pendidikan

Solusi mengatasi perubahan iklim yang bisa di blang sangat berimbas untuk jangka panjang adalah berinvestasi pada generasi muda. Penting untuk mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum sekolah. 

Hal ini bisa di lakukan dengan memberikan mata pelajaran tentang perubahan iklim, keanekaragaman hayati, dan pentingnya hutan dalam menjaga keseimbangan ekosistem. 

Selanjutnya pihak sekolah juga perlu untuk melakukan kampanye guna membangkitkan kesadaran tentang pentingnya melindungi hutan dan mengurangi jejak karbon. Sebagai bentuk praktek pencegahan nyata, salah satu yang bisa diakukan adalah dengan menyelenggarakan program penanaman pohon. 

Sementara untuk solusi lain yang bisa di terapkan adalah mengajarkan praktek pengurangan, penggunaan ulang, dan daur ulang kepada siswa. Cara ini sangat efektif untuk membantu mengurangi dampak lingkungan dan mengurangi tekanan terhadap hutan. 

Dengan pendidikan yang kuat tentang perubahan iklim dan perlindungan hutan, generasi muda akan lebih mungkin menjadi warga yang peduli terhadap lingkungan dan berkontribusi pada upaya perlindungan hutan dan penanganan perubahan iklim.

4. Sektor Kesehatan

Solusi mengatasi isu perubahan iklim juga bisa di lakukan melalui sektor kesehatan. Masyarakat bisa melakukan penanaman tanaman herbal endemik atau khas daerah dalam program reforestasi. 

Hal ini juga bisa sekaligus membantu menjaga keanekaragaman hayati hutan dan mengurangi deforestasi. Memotivasi pola makan yang lebih berkelanjutan juga bisa menjadi solusi lain. 

Misalnya saja seperti mengurangi konsumsi daging dan produk hewani yang dapat mengurangi tekanan terhadap hutan dan mengurangi emisi karbon. Jarang kita sadari, bahwa terlalu sering mengonsumsi daging sangat berdampak pada pemanasan bumi. 

Selain itu, rumah sakit kuga sebaiknya memilah limbah menjadi kategori yang sesuai. Seperti limbah medis, limbah berbahaya, dan limbah non-medis guna memudahkan pengelolaan dan pengolahan lebih lanjut.

5. Sektor Kehutanan

Ada beberapa solusi yang dapat membantu mengatasi perubahan iklim di sektor kehutanan. Cara ini bisa dilakukan dengan menerapkan praktik pengelolaan hutan berkelanjutan yang melibatkan penanaman kembali perlindungan hutan alam, serta menerapkan tebang pilih. 

Perlindungan terhadap hutan hujan juga sangat penting, karena kawasan ini memiliki kapasitas besar untuk menyerap karbon. Perlu di perhatikan pula, yakni pelarangan terhadap praktik pembukaan lahan hutan untuk pertanian, perkebunan maupun industri secara ilegal.  

Kualitas hutan yang baik mampu mengurangi emisi karbon dioksida, meningkatkan penyimpanan karbon, mengurangi erosi tanah, serta meningkatkan kualitas air.

6. Sektor Industri

Industri menjadi penyumbang utama emisi gas rumah kaca, seperti karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4). Jelas penurunan emisi industri akan sangat membantu dalam mengurangi pemanasan global.

Melihat hal ini, tentu penting bagi industri untuk lebih sadar akan dampaknya terhadap perubahan iklim. Industri harus lebih sadar dalam mencari solusinya. Mulai dari penggunaan teknologi yang lebih efisien energi dalam proses produksi hingga logistik. 

Solusi lain yang bisa di lakukan seperti mengurangi limbah dengan penggunaan bahan sekali pakai, melakukan daur ulang, meminimalkan penggunaan bahan kimia berbahaya dalam proses produksi, serta sistem pembuangan yang ramah lingkungan. 

Yuk #BersamaBergerakBerdaya Mengatasi Isu Perubahan Iklim 

Mungkin tanpa kita sadari, ternyata hal-hal yang selama ini kita anggap sepele atau “receh” justru berperan penting dalam mengatasi perubahan iklim dan juga memberikan perlindungan pada hutan. 

1. Menghemat Penggunaan Energi

Kamu sering boros dalam menggunakan listrik di rumah? Perlu kamu pahami, bahwa sebagian besar listrik dan panas menggunakan tenaga batu bara, minyak, dan gas yang menjadi pemicu perubahan. Sehingga buat mengatasinya, kamu bisa menggunakan lebih sedikit energi guna mengurangi efek pemanasan.

Misalkan saja dengan beralih ke bola lampu LED, memilih peralatan listrik hemat energi, mematikan lampu saat tidak d ipakai, memanfaatkan cahaya dan ventilasi alami di banding menggunakan lampu dan kipas atau AC, dll.

2. Menghemat Air

Dengan mengurangi penggunaan maupun konsumsi air, kita dapat mengurangi tekanan terhadap sumber daya air dan energi yang di gunakan dalam pemrosesannya. Selain itu, juga mampu membantu mengatasi kekeringan yang bisa di sebabkan oleh perubahan iklim.

3. Mengganti Mode Transportasi

Pernahkah kamu berpikir bahwa kendaraan yang membanjiri jalanan dan bikin kemacetan, ternyata berpengaruh terhadap perubahan iklim? Perlu kamu tahu, bahwa kebanyakan dari kendaraan tersebut menggunakan bahan bakar solar atau bensin.

Nah, sebagai solusinya, kamu bisa mencoba buat berjalan kaki atau mengendarai sepeda ketimbang menggunakan kendaraan pribadi. Hal ini jelas sangat efektif dalam mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus menjaga kualitas udara.

Bila memungkinkan, kamu bisa beralih ke mobil atau motor listrik. Kendaraan listrik mampu membantu mengurangi polusi, serta menimbulkan lebih sedikit emisi gas rumah kaca di banding kendaraan dengan tenaga gas atau diesel.

4. Memperbanyak Makan Sayur

Tahukah kamu, ternyata konsumsi makanan dari bahan nabati berpengaruh dalam mengatasi perubahan iklim. Dalam hal ini, kamu bisa konsumsi lebih banyak sayuran, biji-bijian, kacang-kacangan, buah-buahan, serta mengurangi konsumsi bahan makanan dari produk hewani.

5. Memanfaatkan Bahan Bekas

Selanjutnya, kamu bisa mengurangi, menggunakan kembali, memperbaiki, dan melakukan daur ulang. Peralatan elektronik, pakaian, botol plastik serta barang-barang lain yang kita beli, ternyata bisa menyebabkan emisi karbon. 

Hal ini terjadi dari mulai ekstraksi bahan mentah sampai proses pembuatan dan pengangkutannya ke pasar. Nah, guna melindungi iklim, kamu bisa mulai hal kecil dengan membeli lebih sedikit barang dan hanya yang benar-benar perlu, belanja barang bekas, memperbaiki daripada membuang, serta melakukan daur ulang.

6. Mengelola Sampah Dapur

Daripada membuangnya, kamu bisa coba membuat pupuk kompos dari sampah dapur sebagai langkah kecil mengatasi perubahan iklim. Dengan mengompos sampah dapur, kamu bisa mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir.

Cara ini dapat membantu mengurangi emisi metana dan gas rumah kaca yang kuat dari pembusukan sampah organik di tempat pembuangan. Selain itu, kompos dari sampah dapur juga kaya akan nutrisi.

Kamu pun bisa memanfaatkannya sebagai pupuk organik untuk meningkatkan kualitas tanah. Tanah yang sehat dapat menyerap lebih banyak karbon dioksida, membantu mengurangi peningkatan suhu global. Langkah ini, juga efektif dalam mengurangi penggunaan pupuk kimia.

7. Mengurangi Sampah Plastik

Plastik merupakan sumber polusi lingkungan yang serius dan penghasil emisi karbon selama proses produksi hingga menjadi sampah. 

Nah, untuk meminimalisir penggunaannya, kamu bisa memulai dengan menghindari produk-produk plastik sekali pakai seperti botol air dan peralatan makanan, mendaur ulang, hingga menggunakan kantong belanja kain.

Bagaimana? Langkah mana yang sudah kita lakukan? Untuk mengatasi perubahan iklim, hal-hal kecil seperti ini nyatanya berdampak sangat besar. Jika kita sendiri yang melakukannya, mungkin dampak tidak akan terlihat. 

Tapi bagaimana jika banyak orang yang sadar akan hal ini? Jelas dampaknya akan sangat berpengaruh. Jadi, segera mulai lakukan hal-hal kecil ini mulai dari diri sendiri!

Mari Kita Wujudkan Mimpi #BersamaBergerakBerdaya! 

Harapanku saat ini, jelas supaya masa-masa sulit akibat perubahan iklim ini segera berlalu. Namun sayangnya, perubahan ini tak bisa jika hanya ku lakukan seorang diri. Butuh banyak tangan yang saling berpartisipasi, khususnya para anak muda. 

Anak muda perlu berperan aktif dalam pendidikan masyarakat, tentang pentingnya pelestarian alam dan berusaha untuk menginspirasi perubahan perilaku yang ramah lingkungan. 

Kita juga bisa berpartisipasi dalam kampanye lingkungan, aksi kesadaran, serta kegiatan sukarela untuk melestarikan hutan dan mengurangi dampak perubahan iklim. Bukan itu saja. Anak muda juga bisa memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan informasi dan memobilisasi dukungan untuk upaya perlindungan lingkungan. 

Tidak berhenti sampai di sini. Semua harapan ini tidak bisa berjalan tanpa adanya dukungan dari pemerintah dalam membuat aturan dan kampanye dari semua pihak. Perusahaan juga harus bisa lebih peduli terhadap lingkungan 

Kita semua harus berjuang mengambil tindakan nyata untuk mengurangi emisi karbon dan melestarikan hutan. Cara ini bisa menjadi langkah penting dalam menjaga keberlanjutan bumi yang kita cintai di masa depan.

“ Yuk share mimpi kamu terhadap penanganan isu perubahan iklim dan perlindungan hutan! 

Referensi

Pixabay.com

Pngegg.com

Katadata.co.id

Jalanbuntu.com

ditulis oleh

Anis Faridatunisak

Jalan Buntu menyuguhkan informasi menarik seputar bisnis, hubungan, kesehatan, kecantikan, review game, dunia wanita, saham, dan berbagai informasi terpercaya lainnya.